Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Renungan

Ketuk Pintu

sumber gambar :  http://berlinhappens.com/10-desain-ruang-rahasia-unik-yang…/ Sekat yang membatasi ruang antarkita, sesungguhnya tak mutlak sebuah dinding saja. Kalau kau sudi mengamatinya dengan seksama, niscaya akan kau temukan sebuah pintu. Disanalah harapan-harapan itu kuletakkan. Kau harus tahu, sebuah batas kubangun setinggi-tingginya tak berarti aku ingin ditinggalkan sepenuhnya. Aku hanya merasa kita butuh ruang untuk menjadi masing-masing. Mengurai kata kita sebagai aku saja, atau kamu saja. Agar setidaknya kita bisa berdialog dengan nurani ma sing-masing bertanya perihal Siapa yang salah? Siapa yang pantas marah? Siapa yang pantas kecewa?

Sana, Pergi yang Jauh (2)

Aku tahu, ambisimu lebih jauh dari jarak sumsel-lampung saja. Mimpimu lebih luas dari daratan sumatera, bahkan Indonesia. Aku tahu... Kamu ingin menjejak lebih jauh dari sekadar negeri tetangga. Kamu ingin berbahasa yang lebih berbeda dari bahasa melayu yang masih serupa bahasa Indonesia Dan tempat ini, tidak ada dalam list mimpimu.  Aku tahu,

Sana, Pergi yang Jauh

Sumber gambar : https://kreditgogo.com/img/u/Funny-Money/main-image.552485963.jpg Sana, pergi yang jauuhh. Kejar terus mimpimu. Sibuk saja sama duniamu. Toh yang bikin aku jatuh cinta adalah ambisi-ambisimu, caramu memperjuangkan yang kamu mau, juga caramu komit sama visimu. Cuekmu yang cool, heningmu yang mendamaikan, bicaramu yang bermutu, optimismu yang nggak ketulungan, cara pikirmu yang nggak lazim, kinerja tangan dan otakmu yang multifungsi menghasilkan sesuatu, bahkan autismu sama hobimu, itu selalu spesial. Tanpa itu, duniamu tak akan semenarik itu  untuk kucari tahu. sungguh menyenangkan bisa menyelami mimpimu dari kejauhan. Ah kamu benar-benar laut yang tenang di permukaan, tapi

(se)Hari Ibu?

Aku tak pernah nyinyir atas ekspresi cinta di jejaring sosial. Selama terbingkai dalam kata 'halal dan dibenarkan', maka tak ada yang berhak sinis jika kemudian menemukan postingan romantis untuk orang terkasih. Kecuali, jika bingkainya tidak jelas. Tidak perlu kujelaskan maksud tak jelasnya, sesungguhnya hati tahu betul mana yang benar mana yang tidak. Iya kan?

Siapa Kita?

Hanya soal salah arena, barangkali. Ikan boleh mengaku perenang handal di laut lepas. Sekali saja bawa ikan ke daratan, tentu tak ada yang bisa ia lakukan selain menggelapar sekarat karena bahkan bernapas pun tak mampu.  Atau, kupu-kupu boleh saja berbangga terbang pamer keindahan ke sana kemari seolah ia yang tercantik di muka bumi. Minta saja kupu-kupu mengibaskan sekali sayapnya ke sungai, kemungkinan ia akan oleng karena sayapnya basah oleh air. Lalu terjatuh, hanyut terseret tak ubahnya daun gugur yang pasrah dibawa arus.  Boleh juga burung unta angkuh atas gelarnya sebagai pelari tercepat di kelasnya. Coba kenalkan dia dengan Elang, barangkali burung unta akan minder ketika berbicara soal langit. Bahkan terbang setinggi pohon saja belum tentu mampu. Soal kesalahan arena, atau katakanlah ketersesatan ini, tidak sedikit mengundang tatapan remeh-temeh, menyepelekan, yang berujung pada pengabaian bahkan berdampak pada keterasingan. Karena tidak semua paham tentang k...