Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Pendek

Anti Teh

Siapapun tahu jenis minuman yang biasa disebut Teh. Balita sampai kakek nenek, takkan butuh kamus besar sekadar mendeskripsikan apa Itu teh. Semudah menyebutkan kata TEH, semudah itu pula menemukannya di rumah-rumah, di warung-warung, di pasar, hingga di kebunnya langsung. Bahkan sekadar untuk mendapatkan teh secara cuma-cuma cukup dengan pura-pura bertamu ke sebuah rumah, niscaya segelas teh akan disuguhkan kepadamu. Perkara lain, si teh ini juga kadang digunakan sebagai teknik marketing bidang  kuliner. Pernah dengar: "makan di sini, gratis teh manis" atau "Apa pun makanannya, minumnya teh botol s*sr*"? Ah, semudah itu. Semudah itu untuk membuat lidahmu berkenalan dengan teh. Mungkin itu juga sebab kenapa aku tidak tertarik sama sekali pada teh. Sesuatu yang mudah sekali diperoleh tanpa perjuangan berdarah-darah kadang menjadi tak menarik lagi. LOL (nggak ada hubungannya).

Tatapan Bapak

"Seberapa penting urusanmu di sana, Nak?" Segera setelah kalimat tanya itu selesai, dengan cekatan aku mengeluarkan kata-kata terbaik yang sudah kupersiapkan jauh sebelum hari ini. Aku tahu, keputusanku untuk pergi akan selalu menimbulkan pertanyaan baginya. Bahkan terkadang wujud pertanyaannya lebih terdengar seperti larangan. Maka sebelum diskusi ini sampai pada kesimpulan bahwa ia melarangku pergi, aku sudah mempersiapkan penjelasan terbaikku. Tak akan kubiarkan ia menemui  cela kata untuk membuatku akhirnya tak kemana-mana. Tekadku bulat. Tatapanku lurus ke depan, berpaling darinya yang duduk tepat di sebelahku. Entah sejak kapan persisnya, aku tak pernah lagi menjalin kontak mata saat berbicara dengannya. Semacam ada yang takut diketahui atas sesuatu yang selalu kutahan agar tak sampai lewat lisan. Tapi meski bgitu, persis saat aku sibuk menjelaskan, hanya dengan sekali lirik, aku tahu ia menatap takzim ke arahku. Matanya seolah mengatakan "putriku sudah dewasa s...

Batal Umroh: Cinta Itu (Selalu) Ada, Nai!

“Umroh?” Mataku terbelalak mendengar tawaran wanita tua di hadapanku. Wanita yang selalu menjanjikan kebahagiaan lewat sorot matanya yang tegas. Bahkan di usia yang sudah lebih dari separuh abad, saat seharusnya akulah yang menawarkan kebahagiaan padanya, ia tetaplah seorang ibu yang selalu ingin mempersembahkan yang terbaik untuk putrinya. “ Aku wes tau ning Mekkah, Nduk. siki giliranmu. 1 ”  Aku mengangguk kegirangan. Refleks memeluk tubuhnya yang sudah tua namun masih terlihat bugar. Di pelukannya, aku meneteskan air mata. Ia pun sama. “Sudah saatnya kamu meninggalkan sejenak kehidupanmu

Kerupuk

Mentari meninggi. Senja mulai menyombongkan diri. Langit jingga mulai jadi sorotan tiap pasang mata di bumi. Dua manusia dalam sepetak kamar kostan menjadi pengecualian kali ini. Tak tampak ketertarikan mereka pada langit senja. Lamunan tentang kehidupan yang mereka jalani lebih menarik untuk diperhatikan saat ini. **** Mungkin sudah sekitar lima belas menit kami berjalan kaki. Kami baru menyudahi aktivitas memenuhi rasa dahaga akan ilmu di ruang kuliah. Tsaaah... Tampaknya begitu. Tapi, perjalanan pulang cukup membuat kami kembali dahaga. Dahaga dalam makna sebenarnya. “Buruan buka pintunya, Fi” Aku berkata sedikit memaksa. Sungguh, kerongkongan ini rindu sejumlah air untuk mengalir di dalamnya. “Sabar, Ntan. Ini juga lagi nyari kuncinya.” Rofi menjawab dengan mata dan tangan terfokus pada ransel yang sedang digendongnya di dada. Sebuah kunci menjadi target pencarian di dalam tasnya. Rofi tersenyum setelah kunci yang dicari tersentuh oleh jemarinya. “Ini dia!” Aku sud...

Kau (Sungguh) Jauh

Rinai tersenyum menerima sebungkus Cornetto dari tangan sahabat karibnya, Awan. Segala bentuk pemberian Awan adalah spesial baginya. Terlebih sebuah es krim coklat. Menurutnya,   sebuah kesengajaan bagi Awan memilih rasa coklat karena sudah sangat memahami hal-hal yang menjadi favoritnya. Senda gurau mereka berdua begitu padu dengan rasa manis es krim yang mereka nikmati. Seandainya Awan paham, bahwa momen seperti ini selalu menjadi pemicu kesadaran Rinai akan perasaan yang sedang ia sembunyikan. “sst, Dinda nelepon. Bisa ngamuk dia kalo tau aku lagi becanda sama cewek” Awan meminta   Rinai menahan tawanya. Kalimat itu adalah batas jelas persahabatan yang mereka jalin. Rinai paham, sedekat apapun Awan baginya. Awan tetaplah jauh dari kemungkinan memiliki perasaan yang sama. Sudah ada sebuah nama di dalam hatinya, dan itu bukan Rinai. **** (entah kenapa sepertinya kisah ini sesuai dengan lirik lagu Afgan-Jauh, tantangan nulis #FiksiLaguku dari Kampus Fiksi) ...

Hanya Dua Puluh Ribu, Ayah!

(Cerpen Lolos Seleksi Kampus Fiksi Angkatan 18) Pandanganku kosong menatap jendela kereta, seolah tengah asyik memandangi setiap detail lukisan alam di luar sana. Lima jam sudah kereta ini membawaku pergi dari kampung halaman. Baru sekitar satu jam lalu aku mampu menyaksikan dengan jelas apa yang ada di luar sana. Perjalanan panjang yang ku mulai sejak pukul 1 dini hari tadi menjadikan pemandangan di luar sama sekali tak tertangkap oleh mataku. Hanya sesekali lampu-lampu putih beberapa stasiun-saat kereta ini berhenti-yang memberiku penjelasan tengah berada di mana. Di sampingku ada sosok lelaki paruh baya-yang amat aku kenal namun baru kali ini aku kembali merasakan keberadaannya-tengah asyik berbincang dengan orang di sebelahnya. Perjalanan jauh berdua dengan ayah. Sejak awal aku sudah paham perjalanan ini tak akan ada bedanya dengan perjalanan sendirian. Sejak ibu menyiapkan perbekalan di rumah tadi, aku sudah membayangkan betapa kaku perjalanan ini. Ingin sekali, menganggap...