Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Sana, Pergi yang Jauh (2)

Aku tahu, ambisimu lebih jauh dari jarak sumsel-lampung saja. Mimpimu lebih luas dari daratan sumatera, bahkan Indonesia. Aku tahu... Kamu ingin menjejak lebih jauh dari sekadar negeri tetangga. Kamu ingin berbahasa yang lebih berbeda dari bahasa melayu yang masih serupa bahasa Indonesia Dan tempat ini, tidak ada dalam list mimpimu.  Aku tahu,

Sana, Pergi yang Jauh

Sumber gambar : https://kreditgogo.com/img/u/Funny-Money/main-image.552485963.jpg Sana, pergi yang jauuhh. Kejar terus mimpimu. Sibuk saja sama duniamu. Toh yang bikin aku jatuh cinta adalah ambisi-ambisimu, caramu memperjuangkan yang kamu mau, juga caramu komit sama visimu. Cuekmu yang cool, heningmu yang mendamaikan, bicaramu yang bermutu, optimismu yang nggak ketulungan, cara pikirmu yang nggak lazim, kinerja tangan dan otakmu yang multifungsi menghasilkan sesuatu, bahkan autismu sama hobimu, itu selalu spesial. Tanpa itu, duniamu tak akan semenarik itu  untuk kucari tahu. sungguh menyenangkan bisa menyelami mimpimu dari kejauhan. Ah kamu benar-benar laut yang tenang di permukaan, tapi

Sisa-Sisa Hujan

Nanti, biar kuurus sisa-sisa cerita yang terselip dalam rintikmu yang kini hinggap dan menetap di ragaku. Katanya, Aku cuma butuh waktu untuk lupa betapa bising dan menyejukkannya kamu ketika itu, hujan. Dalam rintikmu yang semakin menyerbu, aku butuh menepi. Ya, tenggelam dalam episodemu yang semakin deras adalah kesadaran soal sakitnya disapa olehmu. Derasmu menghujam tanpa ampun. Rintikmu berubah jadi sembilu. Dinginmu semakin menusuk. Aku mundur, dengan sisa kuyup yang tak bisa begitu saja lenyap hanya dengan menyingkir darimu. Lagi, biar kuurus sisa-sisa cerita yang terselip dalam rintikmu yang kini hinggap dan menetap di ragaku, Membiarkan basahnya mengering. Entah karena bulirannya runtuh oleh gravitasi, atau menguap oleh matahari. Hanya saja, aku butuh waktu...

MASING-MASING

sumber gambar : http://rochenry-ochen.tumblr.com/post/120359697489/di-sebuah-persimpangan Apakah aku yang terlalu terampil menampakkan raut wajah menyalahkan, hingga berat untukmu melangkah kemari? atau, rupanya aku hanya diabaikan karena ketakpahamanmu sama sekali pada kecewaku? Bila opsi kedua, maka dengan sangat berterimakasih aku mundur dari kehidupanmu. Adalah sebuah kesia-siaan jika aku memilih bertahan. Bukankah jelas, aku menjadi yang tak penting? Aku mana betah untuk duduk berlama-lama diatas pengabaian Lalu kemudian mari perkenankan diri kita melangkah bebas pada jalan masing-masing. Kau, baik-baiklah pada apa yang kusebut mengecewakan Tunjukkan padaku, suatu hari, bila kecewaku memanglah keliru. Lalu aku, Biar kuurus kesalahanku: telah begitu yakin pada keteguhanmu Yang pada akhirnya, aku mendapati pertahananmu runtuh. Bukankah mulanya memang kita punya jalan cerita masing-masing? Maka harusnya aku tak perlu khawatir ketika pada akhirnya kita memang harus masing-m...

langit kanvas cinta

jika langit kanvas cinta pantas saja aku menatap mentari fajar dengan gemetar entah terpesona, entah terkesima lalu waktu menyeretnya semakin tinggi semakin panas meradang lalu aku jengah berharap ia segera menghilang namun entah, ketika awan hitam menyelimuti sinarnya aku kehilangan tanpa sadar , rintik hujan perlahaan turun jatuh satu persatu menyampaikan cinta dalam tiap tetesnya semakin deras, semakin ramai, semakin tak ingin rintiknya berakhir aku tau rintiknya gaduh, tapi bagiku itu teduh dan itu merdu tapi lagi-lagi tentang waktu hujan tak akan terus jatuh kala rintiknya mereda meninggalkan basah dan tinggal dingin yang tersisa terus terang aku resah aku menunggu barangkali ia turun kembali atau mentari akan menghapus jejaknya atau justru pelangi yang akan menawarkan indahnya

Hujan

Selamat sore hujan, Terimakasih... untuk mau menjatuhkan diri pada ragaku untuk teduh yang menyapa lewat tiap tetes yang jatuh untuk sejuk yang meruntuhkan hingar bingar penat dan gerah dalam jiwaku Boleh aku titip sesuatu pada tetesan lain yang jatuh pada  raga seseorang? Sampaikan saja teduh hati ini padanya, Seperti teduhnya tetesanmu, hujan. Biarkan dia paham betapa teduh saat bersamanya Biarkan dia paham betapa sejuk di sapa olehnya

sudah kucari dan tak ada

aku sudah mencari, tapi tak ada... tak ada mata yang berbinar, tak ada tatapan besinar, logika sudah berkata, semua masih dalam batas kewajaran, duhai perasaan, kenapa memilih menghempaskan diri pada keadaan yang sama yang indah itu hanya dalam sudut pandangmu saja, tatapannya masih sama, kenapa mencari diri sendiri dalam mata orang lain. kau tak lihat, sudah ada sebuah nama didalam sana. dan itu bukan kau!

Hati yang Ditinggal

sampai getir perih ini belum sirna sempurna, justru datang calon perih yang baru tiba dengan sebuah tawa kebahagiaan, kemudian menerbangkan sejuta angan menembus awan, tapi atmosfir, akan selalu membakar yang melaluinya. seperti itukah selalu? kau mana tau dampak bagi hati yang aku punya kau hanya bertingkah seperti seharusnya begitu katamu tapi aku. hatiku tak cukup kuat menerima 'keseharusan' itu dampaknya butuh pertangguung jawaban jika tidak, maka lagi-lagi, ini menjadi hati yang ditinggal

Tanya Tentang Kerinduan

Oleh : intan puspita sari Termangu dalam ruang berhiaskan kesepian Berirama nada-nada kerinduan Sekedar bertegur sapa dengan harapan Bertanya tanpa pernah ada jawaban Siapakah yang telah berani mengusik jiwa yang penuh keseriusan? Hanya dengan menghilang tanpa pemberitaan Sosok itu, merobohkan dinding keangkuhan Membuat sikap tak acuh turut mempertanyakan Dan akhirnya hati melontarkan pengakuan Tahukah? Kisah yang dahulu kusebut tiada diperlukan Kini mulai berarti setelah lenyap jadi sebuah kenangan Lagi, Hanya sebuah penantian Hingga tiba waktu menjawab semua harapan

MENTARI JANGAN MENGHILANG

oleh : intan puspita sari jadilah mentari saat cerah tapi jangan menghilang terlalu lama saat hujan tiba  jika memang awan hitam enggan pergi hingga hujan berhenti hingga kau benar-benar tak mampu menampakkan diri hadirlah lagi sebagai pelangi karna dengan begitu meski aku tak lagi dapat merasakan sinarmu setidaknya aku masih bisa tersenyum melihat warna-warni itu sebagai penghibur setelah lama aku termenung  menanti saat awan hitam itu menyingkir darimu