Langsung ke konten utama

Takdir Saja, Bagaimana?

Baiklah...
Cerita kita sudah selesai pada kalimat saling melepaskan.
Apapun lelucon tentang pernikahan, akan kulupakan.
Kalaupun sempat berharap sesegera itu.
Kalaupun sempat kalah memperturutkan perasaan itu.
Kalaupun pernah kalut sama rindu semendesak itu.
Nyatanya tidak pernah ada kata 'sekarang' untuk mewujudkannya, kan?
Aku tidak ingin kita terjebak dengan kata nanti.
Yang pada akhirnya hanya tentang momen menunggu tanpa kepastian.
Hanya sebuah kesia-siaan, membenamkan diri dalam dosa.
Bukan tentang sok suci atau kadar keimanan yang terlampau tinggi.
Tapi sungguh karena aku merasa imanku tak sekuat itu untuk terus berpegang pada kebenaran yg kuyakini, jika terus berdiam diri pada kesalahan yang terselubung seperti ini.
Sadarkah, jika kita terus membahas tentang pernikahan, sesungguhnya kita sedang membangun imajinasi untuk berdua?
Sementara kita tidak dalam ikatan yang dibenarkan. 
Tidakkah itu berarti kita sedang menyusun dosa?

Maka karena itulah, mas.
Kuputuskan untuk menyudahinya.
Tidak peduli kau jauh di negeri seribu menara dan aku di negeri seribu pulau.
Syaitan selalu punya cara untuk menemukan kawan.
Paling tidak, ia melemahkan apa yang kita sebut hati. 
Membuatnya didominasi oleh selainNya.
Astaghfirullah. Apakah kita akan merusak sesuatu yang kita sebut cinta?

Ah, Entah kau tidak ada atau memang senyata itu. 
Aku cuma tau, kita salah. Maka sudah!
Nanti kalau jodoh, Tuhan punya cara untuk takdir yang sudah dituliskanNya.
Kalaupun tidak, minimal kita tidak membangun perasaan itu terlalu jauh. 
Sehingga jika nanti Tuhan tak memberi restu, kita tidak perlu jatuh sesakit itu hanya karena harapan yang kita pupuk setiap harinya tak berbuah sesuai maunya kita.
Kita ikut skenario Dia saja, ya?
Pasti lebih membahagiakan, kok.
Percaya kan?
Mari fokus pada kedua kaki dimana kita berpijak sekarang.
Pada mimpi kita.
Tanggung jawab kita.
Entah itu tahun depan, yang terdengar lebih mungkin, atau tahun-tahun selanjutnya.
Datanglah jika memang semua keinginan itu masih sama dengan hari kemarin. Juga dengan kita yang jauh lebih siap.

*Midnight di Indonesia.
Magrib di Kairo.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Novel Pergi- Tere Liye] Tauke Besar, Kemana akan Pergi?

  Judul         : Pergi Penulis       :  Tere Liye Penerbit      : Republika Penerbit Cetakan I    :April, 2018 Tebal buku  : iv+455 halaman “Berangkat, Edwin. Kita harus tiba di Hong Kong malam ini. Aku ada urusan dengan Master Dragon yang belum selesai.” Bagi kalian yang pernah membaca novel Pulang karya Tere Liye terbitan tahun 2015 lalu, tentu tak asing dengan kalimat di atas. Sebaris kalimat penutup yang berhasil membuat pembaca mengkhatamkan novel tersebut dengan otomatis mengeluh “Yah, endingnya gantung!”. Sepertinya, melalui kalimat itu, sang penulis sengaja menciptakan tanda tanya besar di kepala pembaca, untuk kemudian dibuat penasaran, harap-harap cemas menantikan ada atau tidak sekuelnya di kemudian   hari, sekadar menjawab satu pertanyaan yang pasti muncul saat aktivitas membaca terpaksa berakhir:  “ apa kepentingan Bujang menemui Master Dragon di Hong ko...

Matahari: Perjalanan Tanpa Misi

Judul Novel         : Matahari Penulis                : Tere Liye Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama Cetakan I            : Juli 2016 Cetakan II            : Agustus 2016 ISBN                    : 978-602-03-3211-6 Tebal buku          : 400 halaman Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orang tuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doctor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya. Tapi sejak dia mengetahui ada y...

Ayat-Ayat Cinta 2: Tentang Diskriminasi dan Toleransi dalam Perbedaan (Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karangan Habiburrahman El Shirazy)

Judul: Ayat-ayat Cinta 2 Penulis: Habiburrahman El Shirazy Penerbit: Republika Tebal: vi + 698 halaman Terbit: November 2015 Fahri Abdullah, demikian ia memperkenalkan namanya di hadapan lima belas mahasiswa pascasarjana di kampus University of Edinburgh. Edinburgh? Fahri sudah melangkahkan kaki hingga ke negeri itu? Apa yang dia lakukan di sana? Untuk pendidikan? Untuk pekerjaan? Atau keduanya? Bagaimana dengan Aisha? Apakah dia ikut ke sana? dan bla.. bla.. bla… sekian pertanyaan terus menuntut jawaban.  Ya, kalian yang sudah lebih dulu berkenalan dengan tokoh Fahri dalam novel ayat-ayat cinta 1 karangan Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik yang terbit pertama kali tahun 2004, mungkin juga memiliki seabrek pertanyaan sebagai respon untuk kalimat pertama yang kutulis dalam resensi novel lanjutannya ini. Dan untuk kalian yang sudah memiliki novel ayat-ayat cinta 2, bisa dipastikan salah satu motif kalian membelinya adalah karena rasa penasaran untuk men...