Langsung ke konten utama

Dua Tahun (Lagi)

Aku sempurna duduk di sampingmu. Dengan segala gemuruh rindu yang berusaha kukontrol ditambah pula rasa deg-degan ketika berjarak tak lebih dari satu meter denganmu, pada detik itu, bernapas bukan perkara sederhana untuk kulakukan. Aku berusaha sekuat tenaga agar embusan napas yang keluar tak mengindikasikan kegugupanku. Oh man, sudah enam tahun, rasanya masih saja segrogi ini di hadapanmu! 


Okay, seperti rencanaku sebelum kemari. Aku akan berusaha bersikap normal layaknya orang-orang yang bertemu dalam reuni. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang sudah dilakukan masing-masing setelah tak bersua dalam hitungan tahun. Atau bertukar cerita nostalgia bahwa dulu pernah begini-begitu. Tapi maaf, untuk bagian nostalgia, aku tak bisa berkutik apa-apa. Bukan karena aku tak ingin mengingat masa lalu denganmu. Hei, aku selalu memutar memori itu di kepalaku selama enam tahun Tuhan tak memberi kita izin untuk bertemu. Jelas aku sangat ingat setiap detailnya bahkan ingin mengulangnya. Tapi justru aku tak yakin bahwa kamu ingin mengingat-ingatnya hari ini bersamaku. Pun bagiku itu memori terindah, aku ragu itu berlaku padamu. Maka izinkan aku bertanya banyak hal, bukan bercerita banyak hal.

"Jadi, setelah ini kau berencana lanjut studi dan pergi lagi dari kota ini? sudah berapa persen kepastiannya?"
Entahlah, tanpa basa-basi, aku langsung ingin bertanya seputar itu. Hey, Tuhan baru membiarkan skenario pertemuan kita terjadi hari ini. Bagaimana mungkin aku tak gusar mengetahuimu ingin pergi lagi dalam waktu dekat?

"Sembilan puluh persen" Jawabmu mantap.

Aku terkesima beberapa saat. Setelah enam tahun, kau tak berubah sama sekali. Masih seorang Ra yang ambisius dan penuh keyakinan ketika ditanya seputar mimpinya. Kalau saja kau tahu, salah satu daya tarikmu ada pada bagian ini. Ya Tuhan! Lagi-lagi aku leleh dengan kemantapannya menjawab pertanyaanku.

"Hmm, udah pasti lah yaa? Berapa lama di sana?"
Masih dengan rasa penasaran yang sama. Tentu aku harus memastikan, berapa lama lagi aku harus bertarung dengan rindu itu.

"Dua tahun"

Aku diam. Memang angka dua tak ada apa-apanya dibanding enam tahun yang sudah berlalu. Tapi kokk ya harus nambah lagi ? Rasanya aku ingin berteriak, "HARUSKAH GUE NUNGGU LAGI?"

Tapi aku ini siapa? Memangnya kamu pernah minta aku nunggu? Memangnya kamu bakal senang kalau kutunggu? Aku ini siapa????

Tentu, Ra. Tentu aku menyadari posisiku. Aku tahu bahwa terlalu naif berharap banyak ketersisaan perasaanmu untukku yang sudah sangat pasti terkikis sampai detik ini. Aku tahu, Ra. Bahwa perjalananmu tentu sudah mempertemukanmu dengan banyak perempuan yang jauuh lebih baik dariku. Aku naif kalau berharap semuanya masih sama setelah ENAM TAHUN. Hanya saja, memang sebegitu naifnya aku memandang diriku sendiri. Iya, Ra. Memang, aku naif!


***
Dalam perjalanan pulang setelah pamit undur diri dari rumahmu. Ada banyak hal yang menjadi renunganku. Terima kasih sudah muncul kembali untuk mengingatkan bahwa aku pernah menjadi seambisius kamu. Terima kasih sudah mengingatkan bagaimana rasanya jatuh cinta yang memotivasi bahwa aku harus menjadi lebih baik dari yang kucintai. Terima kasih sudah mengingatkan siapa aku di masa lalu. Terima kasih sudah membuatku malu pada diriku sendiri. Sebab ternyata setelah enam tahun aku meredup. Bukan lagi orang yang bersemangat menceritakan banyak mimpi di banyak negeri. Terima kasih, setelah enam tahun ternyata aku masih menyukai orang yang sama seperti terakhir kutemui. Terima kasih untuk tetap menjadi Ra yang penuh mimpi. Terima kasih sudah melunasi rinduku dengan sudi melakukan temu. Meski sesungguhnya, pertemuan itu menjadi muasal rindu yang baru. Ra, selalulah menjadi seambisius itu dan teruslah fokus dengan yang kamu ingini. Juga izinkan aku tetap menatap langkahmu dari jauh. Ada semangat yang perlu kutiru darimu. 
Semoga Tuhan selalu menjaga mimpi-mimpimu. . . 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Novel Pergi- Tere Liye] Tauke Besar, Kemana akan Pergi?

  Judul         : Pergi Penulis       :  Tere Liye Penerbit      : Republika Penerbit Cetakan I    :April, 2018 Tebal buku  : iv+455 halaman “Berangkat, Edwin. Kita harus tiba di Hong Kong malam ini. Aku ada urusan dengan Master Dragon yang belum selesai.” Bagi kalian yang pernah membaca novel Pulang karya Tere Liye terbitan tahun 2015 lalu, tentu tak asing dengan kalimat di atas. Sebaris kalimat penutup yang berhasil membuat pembaca mengkhatamkan novel tersebut dengan otomatis mengeluh “Yah, endingnya gantung!”. Sepertinya, melalui kalimat itu, sang penulis sengaja menciptakan tanda tanya besar di kepala pembaca, untuk kemudian dibuat penasaran, harap-harap cemas menantikan ada atau tidak sekuelnya di kemudian   hari, sekadar menjawab satu pertanyaan yang pasti muncul saat aktivitas membaca terpaksa berakhir:  “ apa kepentingan Bujang menemui Master Dragon di Hong ko...

Matahari: Perjalanan Tanpa Misi

Judul Novel         : Matahari Penulis                : Tere Liye Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama Cetakan I            : Juli 2016 Cetakan II            : Agustus 2016 ISBN                    : 978-602-03-3211-6 Tebal buku          : 400 halaman Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orang tuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doctor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya. Tapi sejak dia mengetahui ada y...

Ayat-Ayat Cinta 2: Tentang Diskriminasi dan Toleransi dalam Perbedaan (Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karangan Habiburrahman El Shirazy)

Judul: Ayat-ayat Cinta 2 Penulis: Habiburrahman El Shirazy Penerbit: Republika Tebal: vi + 698 halaman Terbit: November 2015 Fahri Abdullah, demikian ia memperkenalkan namanya di hadapan lima belas mahasiswa pascasarjana di kampus University of Edinburgh. Edinburgh? Fahri sudah melangkahkan kaki hingga ke negeri itu? Apa yang dia lakukan di sana? Untuk pendidikan? Untuk pekerjaan? Atau keduanya? Bagaimana dengan Aisha? Apakah dia ikut ke sana? dan bla.. bla.. bla… sekian pertanyaan terus menuntut jawaban.  Ya, kalian yang sudah lebih dulu berkenalan dengan tokoh Fahri dalam novel ayat-ayat cinta 1 karangan Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik yang terbit pertama kali tahun 2004, mungkin juga memiliki seabrek pertanyaan sebagai respon untuk kalimat pertama yang kutulis dalam resensi novel lanjutannya ini. Dan untuk kalian yang sudah memiliki novel ayat-ayat cinta 2, bisa dipastikan salah satu motif kalian membelinya adalah karena rasa penasaran untuk men...