Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Terjauh yang Ingin Kutuju: Rumahmu

Tentang sebuah tempat yang ingin aku kunjungi. Katanya, mesti yang terjauh. Hmm, sebelum kusebutkan nama tempatnya, izinkan aku menjelaskan definisi kata jauh dalam presepsiku. kata jauh, jika sudut pandangnya tak sesempit jarak fisik, seharusnya tidak hanya tentang sebuah tempat yang berada ribuan bahkan milyaran kilometer dari posisiku berdiri kan? Satu senti pun jaraknya, bisa saja aku menyebutnya tempat terjauh. Maaf, kacamataku memang sedikit berbeda. Lalu? Hfft, Baiklah, rupanya kau tak sabaran. Langsung saja akan kusebutkan tempatnya, lalu semoga kau paham maksudku. Jangan terkejut, karena tempat terjauh itu adalah rumahmu. Iya, kamu! Aku tahu, jika dihitung menggunakan speedometer di motor sebagai akses menuju rumahmu, tak akan menggulirkan angkanya sampai 50 kilometer. Ke rumahmu mungkin hanya membutuhkan lima belas sampai  duapuluh menit sebagai waktu tempuh. Itupun jika terjebak macet di lampu merah kota pada waktu sibuk. Seharusnya bisa lebih cepat. Hei, kond...

Putra dan seragam putih merah

Kampung halaman memang selalu menawarkan kedamaian. Terkhusus ketika pagi. Aku senang menghirup udaranya dalam-dalam. Jauh dari polusi seperti di kota tempatku merantau. Juga, karena banyak hal yang bisa dikenang bersama aroma kenanga di pekarangan rumah dan seliweran bumbu masakan ibu yang sudah ke mana-mana sejak aku terjaga. Sudah hampir jam enam pagi. Aku membuka pintu warung sebagai tanda siapapun sudah bisa berbelanja di rumahku. Karena masih belum ada pelanggan, aku memutuskan untuk menyapu halaman. Membersihkan daun-daun dari pohon mangga yang berjatuhan. Ritual semacam ini, hanya bisa terjadi saat sedang berlibur di rumah. Maklumlah, saat di rantau, aku lebih suka menarik selimut untuk menutup seluruh tubuh ketimbang melawan dinginnya pagi. Sebab memang tak ada yang menjadi kesibukan di pagi hari kecuali jam kuliah dimulai jam setengah delapan. Satu dua pelanggan yang datang membuatku sesekali menunda aktivitas menyapu. Sekitar jam tujuh, saat halaman rumah sudah serat...

Dua Tahun (Lagi)

Aku sempurna duduk di sampingmu. Dengan segala gemuruh rindu yang berusaha kukontrol ditambah pula rasa deg-degan ketika berjarak tak lebih dari satu meter denganmu, pada detik itu, bernapas bukan perkara sederhana untuk kulakukan. Aku berusaha sekuat tenaga agar embusan napas yang keluar tak mengindikasikan kegugupanku. Oh man, sudah enam tahun, rasanya masih saja segrogi ini di hadapanmu! 

Ketuk Pintu

sumber gambar :  http://berlinhappens.com/10-desain-ruang-rahasia-unik-yang…/ Sekat yang membatasi ruang antarkita, sesungguhnya tak mutlak sebuah dinding saja. Kalau kau sudi mengamatinya dengan seksama, niscaya akan kau temukan sebuah pintu. Disanalah harapan-harapan itu kuletakkan. Kau harus tahu, sebuah batas kubangun setinggi-tingginya tak berarti aku ingin ditinggalkan sepenuhnya. Aku hanya merasa kita butuh ruang untuk menjadi masing-masing. Mengurai kata kita sebagai aku saja, atau kamu saja. Agar setidaknya kita bisa berdialog dengan nurani ma sing-masing bertanya perihal Siapa yang salah? Siapa yang pantas marah? Siapa yang pantas kecewa?

Surat untuk Ra

sumber gambar : http://ukhtisamira.blogspot.co.id/ Selamat malam, Ra! Mungkin tulisan ini adalah sebuah kesia-siaan. Ditulis tanpa kejelasan tujuan dan waktu untuk disebut sebagai surat. Tapi aku perlu menulisnya dan membiarkan takdir yang membuatnya sampai kepadamu atau tidak. Juga membiarkan takdir sudi membuatmu mau membalasnya atau tidak. Ra, seharusnya ini kuucapkan enam tahun lalu.

Sana, Pergi yang Jauh (2)

Aku tahu, ambisimu lebih jauh dari jarak sumsel-lampung saja. Mimpimu lebih luas dari daratan sumatera, bahkan Indonesia. Aku tahu... Kamu ingin menjejak lebih jauh dari sekadar negeri tetangga. Kamu ingin berbahasa yang lebih berbeda dari bahasa melayu yang masih serupa bahasa Indonesia Dan tempat ini, tidak ada dalam list mimpimu.  Aku tahu,

Anti Teh

Siapapun tahu jenis minuman yang biasa disebut Teh. Balita sampai kakek nenek, takkan butuh kamus besar sekadar mendeskripsikan apa Itu teh. Semudah menyebutkan kata TEH, semudah itu pula menemukannya di rumah-rumah, di warung-warung, di pasar, hingga di kebunnya langsung. Bahkan sekadar untuk mendapatkan teh secara cuma-cuma cukup dengan pura-pura bertamu ke sebuah rumah, niscaya segelas teh akan disuguhkan kepadamu. Perkara lain, si teh ini juga kadang digunakan sebagai teknik marketing bidang  kuliner. Pernah dengar: "makan di sini, gratis teh manis" atau "Apa pun makanannya, minumnya teh botol s*sr*"? Ah, semudah itu. Semudah itu untuk membuat lidahmu berkenalan dengan teh. Mungkin itu juga sebab kenapa aku tidak tertarik sama sekali pada teh. Sesuatu yang mudah sekali diperoleh tanpa perjuangan berdarah-darah kadang menjadi tak menarik lagi. LOL (nggak ada hubungannya).

Sana, Pergi yang Jauh

Sumber gambar : https://kreditgogo.com/img/u/Funny-Money/main-image.552485963.jpg Sana, pergi yang jauuhh. Kejar terus mimpimu. Sibuk saja sama duniamu. Toh yang bikin aku jatuh cinta adalah ambisi-ambisimu, caramu memperjuangkan yang kamu mau, juga caramu komit sama visimu. Cuekmu yang cool, heningmu yang mendamaikan, bicaramu yang bermutu, optimismu yang nggak ketulungan, cara pikirmu yang nggak lazim, kinerja tangan dan otakmu yang multifungsi menghasilkan sesuatu, bahkan autismu sama hobimu, itu selalu spesial. Tanpa itu, duniamu tak akan semenarik itu  untuk kucari tahu. sungguh menyenangkan bisa menyelami mimpimu dari kejauhan. Ah kamu benar-benar laut yang tenang di permukaan, tapi

(se)Hari Ibu?

Aku tak pernah nyinyir atas ekspresi cinta di jejaring sosial. Selama terbingkai dalam kata 'halal dan dibenarkan', maka tak ada yang berhak sinis jika kemudian menemukan postingan romantis untuk orang terkasih. Kecuali, jika bingkainya tidak jelas. Tidak perlu kujelaskan maksud tak jelasnya, sesungguhnya hati tahu betul mana yang benar mana yang tidak. Iya kan?

Tentang Kamu: Misteri Satu Miliar Poundsterling

Judul Novel : Tentang Kamu Penulis : Tere Liye Penerbit : Republika Penerbit Cetakan 1 : Oktober 2016 Tebal Buku : vi+524 halaman Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu. Itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan. Cintalah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir. tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan. (Tere Liye) Sudah baca novel yang cover belakangnya bertuliskan demikian? Atau sedang berencana untuk membacanya? Saranku, jika memang sudah ada niat, lekas tunaikan dalam tindakan. Sekali kamu masuk dalam kalimatnya Tere Liye, maka kujamin, kamu tidak akan